Kuantifikasi jasa lingkungan air dan karbon pola agroforestri pada hutan rakyat di wilayah sungai Jeneberang uri icon

abstract

  • Agroforestri sebagai salah satu bentuk tutupan vegetasi yang menyerupai hutan memiliki potensi untuk mengatur tata air. Sistem agroforestri juga memiliki potensi yang lain yaitu menambat karbon melalui proses produksi biomassa. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, yang secara administratif berada di tiga kabupaten, yaitu: Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Sinjai, namun sebagian besar wilayahnya berada di Kabupaten Bulukumba. Lokasi yang merupakan salah satu lokasi kegiatan Proyek AgFor ini juga mewakili daerah dengan tutupan lahan hutan yang masih relatif terjaga. Tujuan dari tulisan ini adalah mengkaji potensi agroforestri dalam menambat karbon dan menjaga fungsi DAS. Tingkat deforestasi kawasan hutan alam di DAS Balantieng mencapai 3,9 ha/th pada kurun 1989-1999 dan 98,3 ha/tahun pada kurun 1999-2009. Sistem penggunaan lahan agroforestri Balangtieng cukup berkembang, mencapai 57 % dari total luas DAS Balangtieng. Dengan total luasan ini, agroforestri mampu menyer ap 1.481.101 ton karbon atau 76 % dari cadangan karbon total di seluruh wilayah DAS Balangtieng. Namun demikian perubahan penggunaan lahan secara keselurahan di wilayah ini menyebabkan terjadinya emisi karbon sebesar 20.164 ton CO2-eq/th pada kurun waktu 1989-1999 dan 136.193 ton CO2-eq/th pada kurun waktu 1999-2009. Berdasarkan hasil survei pengetahuan ekologi lokal, penurunan tingkat produksi kebun coklat akibat serangan hama penyakit menyebabkan petani tertarik untuk menggantinya dengan pola sistem cengkeh (Syzygium Aromaticum (L.) Merrill & Perry) dan karet (Hevea braziliensis). Berdasarkan temuan ini disusun skenario perubahan penggunaan lahan: Skenario I: Perubahan 50% AF coklat dan kopi menjadi AF cengkeh di hulu dan monokultur karet di tengah dan hilir DAS; Skenario II: Perubahan 25% AF coklat dan kopi menjadi AF cengkeh di hulu dan monokultur karet di tengah dan hilir DAS; Skenario III: Perubahan 50% AF coklat dan kopi menjadi AF cengkeh di hulu dan monokultur karet di tengah dan hilir DAS dengan penurunan laju deforestasi s ebesar 50%; Skenario IV: Perubahan 25% AF coklat dan kopi menjadi AF cengkeh di hulu dan monokultur karet di tengah dan hilir DAS dengan penurunan laju deforestasi sebesar 50% dan Skenario Business as Usual (BAU) yang merepresentasikan kondisi perubahan penggunaan lahan yang sama seperti periode tahun 1999 to“ 2009. Hasil pemodelan dengan menggunakan model hidrologi GenRiver menunjukkan hasil yang sama untuk semua skenario (I, II, III dan IV). Kemampuan DAS meredam aliran puncak (buffering peak indicator) pada skenario I, II. III dan IV lebih tinggi dibandingkan dengan skenario BAU, yang menunjukan perubahan sistem coklat menjadi sistem cengek di bagian hulu DAS meningkatkan kemampuan menyimpan air pada saat musim hujan, Temuan ini perlu diverifikasi dengan data lapangan di tingkat plot. Dari sisi penambatan karbon, seluruh skenario (I, II, III dan IV) menurunkan tingkat emisi dan penurunan terbesar terjadi apabila diimbangi dengan pengurangan laju deforestasi skenario III dan IV). Dengan demikian perubahan sistem agroforestri coklat menjadi cengkeh dan kopi seperti yang diinginkan masyarakat diprediksi tidak akan memberikan dampak negatif pada fungsi tata air dan memberikan efek positif yaitu penurunan emisi karbon di DAS Balantieng

publication date

  • 2014