Agroforestri Sagu: Sebagai Program Aksi Penurunan Karbon di Kabupaten Jayapura uri icon

abstract

  • Luas kebun sagu di Kabupaten Jayapura antara tahun 1990-2010 mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 10.214 hektar menjadi 5.600 hektar untuk berbagai penggunaan antara lain: pembangunan sarana dan prasarana fisik perkantoran, pemukiman, jalan dan pusat perdagangan. Bahkan, alih guna kebun sagu masih terus berlanjut hingga saat ini. Survei lapangan untuk mengestimasi cadangan karbon pada kebun sagu menggunakan dilakukan pada sepuluh petak contoh berukuran 100 m x 20 m yang tersebar di Khoya, Depapre dan Sentani, Kabupaten Jayapura. Semua jenis tumbuhan berdiameter di atas 30 cm diukur diameter setinggi dada (DBH), diidentifikasi spesiesnya berdasarkan contoh herbarium. Sementara, pohon berdiameter 5-30 diukur pada petak contoh berukuran 40 m x 5 m yang ditempatkan di dalamnya. Persamaan allometri digunakan untuk menghitung biomasa pohon dan 46% biomasa digunakan sebagai faktor pengubah biomasa. Perangkat lunak REDD Abacus SP digunakan untuk memperkirakan emisi dan penurunan emisinya berdasarkan pilihan skenario yang telah direncanakan. Alih guna kebun sagu menjadi bangunan sarana fisik mengemisikan minimal 260 ton CO2-eq per hektar. Konservasi kebun sagu dalam bentuk agroforestri melalui rehabilitasi kebun sagu terdegradasi dengan memelihara anakan sagu untuk pembibitan, penanaman anakan sagu, pengkayaan jenis tanaman buah-buahan dan kayu serta memelihara kayu yang beregenerasi alami berpotensi menurunkan emisi dalam bentuk peningkatan cadangan karbon. Konservasi kebun sagu melalui penanaman kembali kebun sagu terdegradasi dengan tanaman sagu dan pohon buah-buahan buah-buahan di Kabupaten Jayapura sesuai dengan perencanaan daerah sebagai suatu aksi penurunan emisi yang pada lahan seluas sekitar 510 hektar berpotensi menurunkan emisi sebesar 1,72 % terhadap emisi kumulatif tahun 2005 hingga 2030

publication date

  • 2016